Selasa, 18 November 2014

BAB V TEKNIK PENGUMPULAN DATA

A.  TEKNIK WAWANCARA
 
Wawancara merupakan istilah yang diciptakan dalam bahasa Indonesia untuk menggantikan kata asing Interview (dari bahasa Belanda atau Inggris), yang digunakan oleh pers Indonesia sampai akhir tahun 1950-an. Orang yang mewancarai disebut Pewawancara (interviewer) dan yang diwawancarai. disebut pemberi wawancara (interviewee) atau disebut juga responden.
Jadi, wawancara adalah tanya jawab dengan seseorang untuk mendapatkan keterangan atau pendapatnya tentang sesuatu hal atau masalah. Wawancara sering kali diasosiasikan dengan pekerjaan kewartawanan untuk keperluan penulisan berita atau feature yang disiarkan dalam media massa. Tetapi wawancara juga dapat dilakukan oleh pihak lain untuk keperluan, misalnya, penelitian, atau penerimaan pegawai.

Jenis-jenis Wawancara
1.      Man in the street interview
Cara ini dilakukan bila kita ingin mengetahui pendapat umum masyarakat terhadap isu/persoalan yang hendak kita angkat menjadi bahan berita.

2.      Casual Interview (wawancara mendadak).
Wawancara ini adalah jenis wawancara yang dilakukan tanpa persiapan/perencanaan sebelumnya.

3.      Personality interview
Merupakan wawancara yang dilakukan terhadap figur-figur publik yang terkenal, atau bisa juga terhadap orang-orang yang dianggap memiliki sifat/kebiasaan/prestasi yang unik, yang menarik untuk diangkat sebagai bahan berita.

4.      News interview
News interview yaitu wawancara dalam rangka memperoleh informasi dan berita dari sumber-sumber yang mempunyai kredibel
Persiapan dalam Melakukan Wawancara
Beberapa persiapan yang dilakukan sebelum wawancara, yaitu :
1.      Menentuan tema. Mengapa suatu tema harus diangkat? Kenapa harus sekarang? Pertama-tama tanyakan pada diri sendiri – mengapa kasus dibawakan sekarang? Dari awal harus sudah jelas peran apa yang akan dibawakan – informasi apa yang mau dicari dari narasumber, apakah perspektifnya, dimana mereka akan kita posisikan.
2.      Menentukan Angle. Angle atau sudut pandang sebuah berita ini dibuat untuk membantu tulisan supaya terfokus. Kita tidak mungkin menulis seluruh laporan tentang apa yang kita lihat, atau menulis seluruh uraian yang disampaikan oleh narasumber. Tulisan yang tidak terfokus hanyalah akan membingungkan pembaca. Untuk menentukan angle salah satu cara yang termudah adalah membuat sebuah pertanyaan tunggal tentang apa yang mau kita tulis. Jawaban pertanyaan tidak boleh melebar kemana-mana. Hal-hal yang tidak relevan dengan angle sebaiknya tidak ditanyakan. Jika ada informasi lain yang disampaikan maka bisa dibuat judul lain. Atau informasi yang sangat penting tersebut tidak cukup untuk dibuat dalam berita tersendiri, maka bikinlah sub judul.
3.      Susunlah outline. Agar memudahkan dalam wawancara maka sebaiknya terlebih dahulu kita menyusun kerangka berita (outline) atau istilah yang lebih lazim flowchart. Outline berisi antara lain:
1.      Tema berita
2.      Angle
3.      Latar belakang masalah
4.      Narasumber
5.      Daftar pertanyaan.
4.      Mengumpulkan Informasi dengan Tepat
Ketidak akuratan (kesalahan) dalam pemberitaan kebanyakan disebabkan oleh kelalaian (kesembronoan) yang tidak disengaja. Seorang reporter mungkin tidak menggunakan waktu secukupnya untuk mengecek informasinya sebelum menulis berita. Kemudian ia salah menuliskan nara sumber berita.    Seorang wartawan kawakan akan mengambil langkah-langkah pencegahan untuk menghindari kesalahan fakta. Bila wartawan mewawancarai seseorang, tanyakan nama, umur, alamat, dan nomor teleponnya. Setelah mengumpulkan informasi, ejalah namanya dan bacakan informasi yang diperoleh (tangkap) sehingga sumber berita bisa mengoreksinya. Nomor telepon tidak ditulis dalam berita, namun reporter harus mengetahuinya untuk mengadakan kontak dengan sumber berita tersebut. Bila informasi narasumber diperoleh dari tangan kedua, harap dicek pada sumber berita untuk membetulkannya. Jangan sekali-kali beranggapan bahwa kita mengetahui semuanya. Kita selalu harus mengecek ulang setiap informasi yang penting. Bila tulisan kita menyangkut materi yang rumit, pastikanlah dulu bahwa kita memahami hal itu.
Umumnya seorang wartawan mengambil peranan sebagai seorang pembaca kebanyakan, dan megajukan pertanyaan sesuai dengan posisi itu.Bila menggunakan statistik atau data matematis, reporter harus mengecek angka-angkanya dan menghitung. Banyak wartawan yang berdalih bermacam-macam bila seorang pembaca yang kritis mengirim surat ke redaksi dan menunjukkan perhitungan yang keliru dalam tulisan wartawan. Statistik harus dicermati benar dengan penuh kecurigaan. Kita bisa membuktikan apa saja dengan statistik, tergantung bagaimana cara kita menyajikannya dan apa saja yang kita masukkan atau tinggalkan. Tanyakanlah kepada sumber secara cermat untuk meyakinkan kebenaran angka-angka  tersebut. Seorang reporter tidak boleh membiarkan dirinya menjadi alat untuk menipu masyarakat. Kekritisan dan pengecekan yang teliti sering bisa menghindarkan hal itu terjadi.
 Teknik Wawancara
Adapun teknik wawancara dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu :
1. Teknik verbal
Teknik verbal yaitu teknik wawancara yang betul-betul memerlukan alat bantu hard ware, seperti catatan dan alat tulis, tape recorder, handycam, microfon.
Teknik ini biasanya dilakukan apabila wartawan mengalami kendala dalam hal mengingat hasil wawancara berhubung ingatan manusia itu pendek dan kapasitas memori otak manusia itu terbatas sehingga wartawan membutuhkan alat bantu untuk kelancaran dalam proses wawancara.
2. Teknik substansial
Teknik substabtial adalah teknik yang terkait dengan kemampuan jurnalis dari segi ketajaman nuraninya dalam menentukan pilihan tema, tempat dan saat yang tepat bagi berlangsungnya sebuah wawancara. Disini perlu adanya ketajaman analisis sosial.
Dalam melakukan wawancara ada beberapa hal yang seharusnya dilakukan oleh wartawan:
1. Menetapkan waktu dan tempat
Ada beberapa tempat yang baik sebagai lokasi wawancara
·Wilayah anda (kantor surat kabar tempat anda bekerja). Biasanya hal ini jarang diperhatikan wartawan atau reporter. Hanya saja, kantor kurang memberikan privasi.
·Wilayah mereka (rumah bagi yang tidak bekerja, kantor, pabrik, atau tempat lainnya mereka bekerja). Biasanya bila berada di wilayah mereka, mereka cenderung lebih santai dan dapat berbicara lebih bebas. Perlu dipahami, rumah dikatakan sebagai ekspresi dan kepribadian narasumber (biasanya mereka ingin menunjukkannya kepada narasumber).
·Wilayah netral (rumah makan, café, dan hotel). Tempat ini digunakan untuk membangun kontak. Suasana informal yang ada mendorong hadirnya suasana yang hangat. Semua ini akan membantu hubungan anda dengan narasumber.
Ada kelemahan ketika seseorang wartawan atau reporter melakukan wawancara di wilayah mereka. Narasumber biasanya menyambut lebih lapang ketika mengundang wartawan atau reporter ke dalam wilayah pribadinya akibatnya wartawan atau reporter sulit mengkritik narasumber dalam hubungan seperti ini. Tetapi yang umumnya digunakan adalah kantor narasumber.
2. Menyiapkan pertanyaan
Cukup banyak wartawan yang kebingungan saat menyiapkna pertanyaan. Apakah pertanyaan itu disusun sebelum wawancara atau dibiarkan berkembang dalam pebicaraan. Beberapa orang berpendapat bahwa cara terbaik adalah menuliskan pertanyaan-pertanyaan penting sesuai dengan urutannya dan member tanda setelah proses wawancara berjalan. Tetapi sebagian lagi menyatakan, cara seperti itu hanya menghambat alur percakapan, biasanya percakapan berlangsung dengan cepat, sehingga sulit untuk menandai pertanyaan  yang telah diajukan. Resiko lainnya, wawancar juga bisa berjalan tanpa diduga arahnya. Akibatnya, terkadang sulit untuk berpegang pada rancangan sebelumnya. Pendekatan lain meyarankan, pikirkan dulu informasi apa yang dibutuhkan untuk wawancara. Selanjutnya, buat rincian pertanyaan sesuai dengan urutan logikanya (sebab akibat). Selama wawancara, tiga atau empat informasi penting dapat disusun. Kemudian berdasarkan susunan inilah rangkaian wawancara berkembang.
3. Melakukan konfirmasi
Sebelum melakukan wawancra hendaknya reporter atau wartawan melakukan konfirmasi kembali atas wawancara yang akan dilakukan. Konfirmasi disini berguna untuk mengingatkan kembali narasumber.
4. Membuka wawancara
Kebanyakan di dalambuku petunjuk pelatihan jurnalistik, menyarankan wartawan atau reporter untuk selalu memulai dengan pertanyaan yang ringan atau yang tidak terlalu menjurus. Fungsinya, agar dapat memancing pendapat dan informasi dasar. Hal ini tujuannya untuk membantu menciptakan kepercayaan narasumber, sehingga wartawan dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan sensitive.
5. Dalam mengakhiri wawancara, ada baiknya menanyakan kembali kepada narasumber apakah masih ada yang ingin disampaikan. Kemudian gunakanlah kata penutup yang layak seperti ucapan terimakasih. Dan di tambah dengan rencana-rencana untuk melakukan pengecekan dan jalinan kontak pada masa yang akan datang.

B.     TEKNIK OBSERVASI
Pengamatan atau observasi adalah aktivitas yang dilakukan makhluk cerdas, terhadap suatu proses atau objek dengan maksud merasakan dan kemudian memahami pengetahuan dari sebuah fenomena berdasarkan pengetahuan dan gagasan yang sudah diketahui sebelumnya, untuk mendapatkan informasi-informasi yang dibutuhkan untuk melanjutkan suatu penelitian. Ilmu pengetahuan biologi dan astronomi mempunyai dasar sejarah dalam pengamatan oleh amatir. Di dalam penelitian, observasi dapat dilakukan dengan tes, kuesioner, rekaman gambar dan rekaman suara.
Cara observasi yang paling efektif adalah melengkapinya dengan pedoman observasi/pedoman pengamatan seperti format atau blangko pengamatan. Format yang disusun berisi item-item tentang kejadian atau tingkah laku yang digambarkan akan terjadi.
Orang yang melakukan pengamatan disebut pengamat.
Kelebihan & Kekurangan Observasi
Kelebihan Observasi
  • Dapat mencatat hal-hal, perilaku pertumbuhan, dan sebagainya pada waktu kejadian itu berlangsung atau sewaktu perilaku itu terjadi.
  • Dapat memperoleh data dari subjek secara langsung, baik yang dapat berkomunikasi secara verbal ataupun tidak.
Kelemahan Observasi
  • Diperlukan waktu yang lama untuk memperoleh hasil dari suatu kejadian, misalnya adat penguburan suku Toraja dalam peristiwa ritual kematian, maka seorang peneliti harus menunggu adanya upacara adat tersebut.
  • Pengamatan terhadap suatu fenomena yang berlangsung lama, tidak dapat dilakukan secara langsung.
  • Adanya kegiatan-kegiatan yang tidak mungkin diamati, misalnya kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan hal-hal yang sifatnya pribadi, seperti kita ingin mengetahui perilaku anak saat orang tua sedang bertengkar, kita tidak mungkin melakukan pengamatan langsung terhadap konflik keluarga tersebut karena kurang jelas.

C.  TEKNIK DAFTAR PERTANYAAN

1.      KEBAIKAN DAFTAR PERTANYAAN
Daftar pertanyaan mempunyai beberapa kebaikan dibandingkan dengan teknik pengumpulan data yang lainnya. Kebaikan dari daftar pertanyaan adalah sebagai berikut ini.
a.       Daftar pertanyaan baik untuk sumber data yang banyak dan tersebar.
b.      Responden tidak merasa terganggu, karena dapat mengisi daftar pertanyaan dengan memilih waktunya sendiri yang paling luang.
c.       Daftar pertanyan secara relatif lebih efisien untuk sumber data yang banyak.
d.      Karena daftar pertanyaan biasanya tidak mencantumkan identitas responden, maka hasilnya dapat lebih objektif.
2.      KEJELEKAN DAFTAR PERTANYAAN
a.       Daftar pertanyaan tidak menggaransi responden untuk menjawab pertanyaan dengan sepenuh hati.
b.      Daftar pertanyaan cenderung tidak fleksibel, artinya pertanyaan yang harus dijawab terbatas yang dicantumkan di daftar pertanyaan saja, tidak dapat dikembangkan lagi sesuai dengan situasinya.
c.       Pengumpulan sample tidak dapat dilakukan secara bersama-sama dengan daftar pertanyaan, lain halnya dengan observasi yang dapat sekaligus mengumpulkan sample.
d.      Daftar pertanyaan yang lengkap sulit untuk dibuat.
3.      TIPE DARI DAFTAR PERTANYAAN
Ada dua macam format dari daftar pertanyaan, yaitu format bebas (free format) dan bentuk pasti (fixed format). Dalam suatu daftar pertanyaan dapat hanya berbentuk format bebas saja atau format pasti saja atau berisi gabungan dari keduanya.
Daftar Pertanyaan Format Bebas
Daftar pertanyaan format bebas (free format questionnaire) berisi dengan pertanyaan-pertanyaan yang harus disi oleh responden di tempat yang sudah disediakan. Contoh dari daftar pertanyaan format bebas ini adalah sebagai berikut ini.
Laporan-laporan apa saja yang telah saudara terima selama ini dan apakah laporan-laporan ini berguna atau tidak?
 Format Pasti
1.Check-off questions.
Macam dari pertanyaan-pertanyaan ini dibuat sehingga responden dapat memeriksa (check-off) jawaban-jawaban yang sesuai, misalnya :
Daftar supplier :
ð Compaq                ð Brurroughs
ð IBM                       ð Commodore
ð Univac                  ð Apple
ð DEC                      ð Xerex
  1. Yes/No questions.
Ya
Tidak. Bila tidak, sebutkan siapa saja yang berhak _________________________
  1. Opinion/choice,questions.
Berilah rangking dalam presentase jumlah waktu yang saudara habiskan untuk menangani transaksi berikut :
_________  %  membuat order penjualan baru
_________  %  membuat order penjualan
_________  %  membuat faktur penjualan
PETUNJUK MEMBUAT DAFTAR PERTANYAAN

  1. Rencanakanlah terlebih dahulu fakta-fakta atau opini-opini apa saja yang ingin dikumpulkan.
  2. Berdasarkan fakta-fakta dan opini-opini tersebut, tentukanlah tipe dari daftar pertanyaan yang paling tepat untuk masing-masing fakta dan opini tersebut.
  3. Tulislah pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan. Pertanyaan-pertanyaan harus tidak boleh mengandung kesalahan dan harus jelas serta sederhana.
  4. Uji daftar pertanyaan ini kepada responden yang kecil terlebih dahulu (2 atau 3 responden). Bila responden-responden ini mengalami kesulitan dalam mengisi daftar pertanyaan ini, perbaiki kembali daftar pertanyaan ini.
  5. Perbanyaklah dan distribusikanlah daftar pertanyaan yang sudah dianggap baik ini.


0 komentar:

Posting Komentar